Dari Podium Thailand Menuju Nagoya Jepang, Vanza Miftahul Jannah Ingin Memberikan yang Terbaik untuk Indonesia

Berdiri di podium dengan medali emas tentu menjadi momen yang membanggakan bagi seorang atlet. Namun bagi Vanza Miftahul Jannah, kemenangan di Asean Para Games 2025 memiliki arti yang lebih jauh dari sekedar medali. Ada proses Panjang yang harus dilewati sebelum akhirnya dia bisa berdiri di sana.Mahasiswa Program Studi Psikologi, Fakultas Sains dan Humaniora, Tiga Serangkai University ini Adalah salah satu atlet balap sepeda atau para cycling yang akan memperkuat Indonesia pada Asean Para Games 2026 di Nagoya, Jepang pada Oktober ini.
Vanza yang berasal dari kota Surakarta, Jawa Tengah Adalah seorang Low Vision yang sudah ergabung pada Pelatihan Daerah ( Pelatda ) sejak tahun 2019 serta Pelatihan Nasional (Pelatnas) National Paralympic Committee (NPC) pada 2025.namanya semakin dikenal karena berhasil meraih medali emas untuk indonesia pada Women’s Time Trial B dalam Asean Para Games2025 di Thailand. Kini, pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal untuk menghadapi kompetisi yang lebih besarpada Asean Para Games 2026.
Namun, bagi vanza, perjalanan menuju podium tidak selalu berjalan mudah. Ia mengaku bahwa salah satu kemenangan yang paling berkesan baginya itu justru bukan karena medali tersebut menjadi pencapaian tertinggi dalam kariernya. Ada banyak hal terjadi sebelum kemenangan itu diraih. “ Waktu itu aku mengalami banyak dinamika. Salah satunya aku sempat berada di kondisi di mana hampir nggak punya pilot. Di sisi lain, ada juga tekanan karena untuk bisa masuk ke Nagoya, salah satu jalannya adalah harus mendapatkan medali. Ungkap vanza. Tekanan tersebut tentu tidak hanya dirasakan secara fisik. Sebagai atlet, kondisi mental juga menjadi salah satu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari persiapan pertandingan.
Pada akhirnya, Vanza berhasil melewati masa tersebut. Ia berdiri di podium dan membawa pulang medali emas untuk Indonesia. Bagi Vanza, kemenangan itu menjadi sebuah pembuktian. Bukan hanya bahwa dirinya mampu mendapatkan medali, tetapi bahwa ia juga bisa bAngkit setelah melewati kondisi yang cukup berat.” Tapi akhirnya semua itu bisa dilewati dan bisa berdiri di podium dengan medali emas. Di situ aku benar-benar merasa, ternyata bisa keluar dari kondisi terburuk dan bisa bangkit lagi. “ tuturnya.
Pengalaman sebagai atlet tersebut yang membuat Vanza tertarik mempelajari Psikologi. Ketertarikan terhadap bidang tersebut sebenarnya sudah ada sejak lama. Ia ingin memahami bagaimana manusia berpikir, berperilaku, mengambil Keputusan dan menghadapi masalah dengan cara yang berbeda-beda. Pengalaman hidup Vanza kemudian membuat ketertarikan tersebut semakin kuat. Vanza pernah berada di satu titik yang cukup berat hingga merasa terpuruk. Dari kondisi itu, kemudian ia mendapat kesempatan untuk masuk ke dunia olahraga. Baginya, olahraga menjadi salah satu titik yang mengubah kehidupannya. Dari sana, ia melihat bahwa seorang atlet tidak cukup hanya mendapatkan Latihan fisik. Ada tekanan sebelum pertandingan, ada rasa lelah, ada kegagalan yang harus diterima, bahkan ada persoalan lain diluar olahraga yang mempengaruhi Latihan dan pertandingan. : Dari pengalaman sebagai atlet, aku kemudian melihat bahwa seorang atlet itu sebenarnya nggak cukup hanya dilatih secara fisik. Mental juga perlu dijaga.” Tuturnya.
Menurut Vanza, ada persoalan tertentu yang kadang tidak mudah diceritakan kepada temen ataupun pelatih. Oleh karena itu, keberadaan orang yang memahami psikologi dan dapat menjadi pihak yang netral penting bagi seorang atlet.. pemikiran tersebut menjadi salah satu alasan Vanza memilih untuk mempelajari psikologi di Tiga Serangkai University. Baginya, kuliah bukan hanya tentang mendapatkan pengetahuan bagi dirinya sendiri. Ia ingin suatu saat dapat menggabungkan pengalaman sebagai atlet dengan ilmu psikologi yang sedang dipelajarinya. “ aku ingin ilmu Psikologi yang aku dapat selama kuliah nanti nggak berhenti hanya sebagai pengetahuan untuk diri sendiri, tapi ingin ilmu itu bisa aku kembangin dan nantinya bisa bermanfaat, baik untuk diriku maupun orang-orang di sekitarku.”ungkapnya.
Pilihan tetap menjalani Pendidikan di Tengah kesibukannya sebagai atllet juga bukan sesuatu yang sederhana. Keduanya memiliki tuntutan yang berbeda. Ketika ia menjalani Latihan atau training camp, fokusnya harus diberikan kepada tanggung jawabnya sebagai atlet. Disisi lain, Ketika berada di lingkungan perkuliahan dan memiliki waktu belajar, ia juga ingin menjalankan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Oleh karena itu, berkomunikasi dengan pihak kampus, program studi, dan dosen menjadi hal yang penting baginya. “ aku menyadari bahwa keduanya memang punya tuntutan masing-masing. Jadi aku nggak ingin memaksakan harus membagi waktu secara sama rata setiap saat.” Jelasnya. Menjadi atlet bukan hanya sekedar mengejar prestasi, tapi juga bentuk kemandiriannya termasuk membiayai pendidikannya.
Saat ini, perhatian Vanza tertuju pada Asean Para Games di Nagoya, Jepang. Setelah melewati berbagai Latihan dan pengalaman pertandingan, ia ingin datang ke arena dengan satu focus utama. Ia ingin focus mengeluarkan seluruh kemampuan yang sudah dilatih selama ini. Target untuk mendapat hasil terbaik tetap ada, medali tentu menjadi sesuatu yang diharapkan. Tetapi Ketika berada dalam pertandingan ia tidak ingin terlalu membebani dirinya dengan ekspektasi tentang medali. Yang lebih penting baginya Adalah memastikan seluruh kemampuan hasil Latihan sudah dikeluarkan Ketika bertanding. “ percuma juga kalau selama latihan sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ketika bertanding justru nggak bisa mengeluarkan kemampuan itu.” Ujarnya. Oleh karena itu, Vanza ingin pulang dari Nagoya dengan perasaan bahwa ia sudah memberikan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Dari Surakarta, kini perjalanan Vanza berlanjut ke panggung olahraga Tingkat Asia. Di satu sisi, dia masih mengejar prestasi sebagai atlet. Disisi lain ia sedang mempersiapkan kehidupan selanjutnya melalui Pendidikan. Keduanya mungkin memiliki tuntutan yang berbeda, namun bagi Vanza keduanya bisa berjalan beriringan. Medali emas dari Thailand telah menjadi salah satu bagian penting dari perjalanaannya. Nagoya kini menunggu dengan tantangan baru, dan Vanza ingin menghadapinya bukan hanya dengan target kemenangan, tetapi dengan keyakinan bahwa seluruh prosess yang sudah dijalani layak diperjuangkan sampai akhir.
