Kolaborasi Lintas Prodi, Mahasiswa TSU Raih Juara 2 Business Plan Tingkat Nasional

Tiga mahasiswa Universitas Tiga Serangkai (TSU) berhasil meraih Juara 2 dalam kompetisi business plan tingkat nasional yang diselenggarakan oleh UIN Raden Mas Said, Surakarta. Tim tersebut terdiri dari Jundi Abdul Harits dari S1 Manajemen sebagai CEO & Business Development, Atho’illah Al Faqih dari S1 Psikologi sebagai COO & Product Development, serta Isna Ratna Yunita dari S1 Manajemen sebagai CMO & CFO.
Dalam kompetisi tersebut, tim mengangkat inovasi produk pangan lokal berbahan singkong khas Surakarta, yaitu balung kethek. Produk yang sebelumnya dikenal dengan tekstur cenderung keras, varian rasa terbatas, serta kemasan sederhana tersebut dikembangkan melalui konsep Balkrez. Gagasannya adalah mengubah citra balung kethek menjadi camilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen masa kini.
Balkrez menawarkan sejumlah pembaruan, mulai dari tekstur yang lebih empuk dan renyah, empat pilihan rasa: Original Gurih, Balado, Pedas Manis Daun Jeruk, dan Asin Gurih, hingga kemasan standing pouch 100 gram dengan zipper lock. Produk tersebut diproyeksikan dengan harga rata-rata Rp11.000 per kemasan. Konsep ini dirancang untuk menyasar konsumen usia 17-35 tahun, terutama mahasiswa, pekerja muda, serta masyarakat di sekitar kampus dan tempat tinggal tim.
Gagasan tersebut tidak hanya didasarkan pada asumsi pasar. Dalam pilot trial, sebanyak 50 kemasan Balkrez habis dalam waktu kurang dari lima hari dan 16 persen konsumen melakukan pembelian ulang. Dari uji coba tersebut, tekstur serta variasi rasa menjadi salah satu pendorong utama pembelian kembali. Tim juga mencatat adanya 4 persen produk yang mengalami kegagalan akibat masalah ketebalan dan keretakan, yang kemudian menjadi bahan evaluasi produk.
Sebelum mengikuti kompetisi, gagasan balung kethek juga pernah diajukan dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW), tetapi belum berhasil lolos. Ketika mendapat informasi kompetisi dari rekan di UIN Surakarta, tim kembali mengembangkan gagasan tersebut. Proses kompetisi dimulai dari pengajuan Business Model Canvas (BMC), kemudian diseleksi menjadi enam tim semifinalis untuk menyusun proposal, hingga tahap grand final berupa presentasi.
Salah satu titik penting dalam proses tersebut adalah pendampingan. Setelah lolos ke semifinal, tim mendapatkan informasi mengenai fasilitas bimbingan lomba dari kampus dan kemudian mendapat pendampingan dari Ibu Yuliana Subastine, S.E., M.M. dosen prodi manajemen TSU dalam penyusunan proposal. Hasilnya, proposal mereka memperoleh nilai tertinggi pada tahap tersebut. Saat grand final, tim juga membawa sampel produk sebagai bagian dari presentasi, yang menjadi salah satu keunggulan karena peserta lain belum membawa sampel.
Selain menghadapi persaingan dengan berbagai produk camilan, tim juga menemukan tantangan pada ketersediaan bahan baku singkong. Dari sisi pengembangan bisnis, mereka masih perlu memperkuat perhitungan harga pokok produksi (HPP), pengelolaan operasional, dan sistem penggajian. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bagi tim untuk memahami bahwa pengembangan produk lokal tidak hanya membutuhkan ide kreatif, tetapi juga perencanaan bisnis dan pengelolaan operasional yang matang.
Melalui kompetisi ini, mahasiswa juga mendapatkan pengalaman menerapkan perspektif lintas bidang. Latar belakang yang berbeda membantu tim melihat bisnis dari sisi manajemen, pemasaran, hingga perilaku konsumen. Bagi mereka, pengalaman mempresentasikan gagasan di luar lingkungan kelas sekaligus menjadi ruang untuk mengasah kemampuan branding dan melihat kembali potensi produk tradisional agar tetap relevan bagi generasi muda.

